Unsyiah Petakan Patahan Gempa

BANDA ACEH – Pascagempa Pidie Jaya, 7 Desember 2016, para ahli kegempaan belum juga menemukan secara pasti jalur patahan aktif yang menyebabkan gempa tersebut. Ketidakjelasan jalur patahan itu akan berkontribusi pada tidak optimalnya pembangunan kembali kawasan terdampak gempa, khususnya dari aspek mitigasi gempa.

Di sisi lain, gempa tersebut turut mengingatkan kembali betapa banyaknya jumlah patahan aktif yang dapat menyebabkan gempa sewaktu-waktu, namun belum cukup diketahui di wilayah Aceh.

Menyikapi hal tersebut, tim Peneliti dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah berinisiatif mempelajari patahan aktif di Wilayah Aceh, termasuk jalur patahan di sekitar Pidie Jaya. Tim itu diketuai Dr Muksin Umar MPhil bersama Dr Irwandi Nurdin MSi, Marwan MT, Ibnu Rusydi MSc, dan Asrillah MSc, serta mahasiswa S2 dan S1 Fisika FMIPA dan S1 Teknik Geofisika Unsyiah.

“Untuk keperluan tersebut, tim peneliti TDMRC Unsyiah sudah memasang sejumlah seismometer di Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan di sepanjang jalur Patahan Seulimeum dan Segmen Aceh sampai Pulau Breueh dan Pulau Sabang. Seismometer dipasang melingkupi wilayah yang terduga patahan aktif. Data yang direkam oleh jaringan seismometer Pidie Jaya dan Patahan Seulimeum akan didownload dan dianalisis setelah satu bulan perekaman,” jelas Ketua TDMRC Unsyiah, Dr Khairul Munadi ST MEng dalam siaran pers kepada Serambi kemarin.

Dalam siaran pers yang sama, Ketua TDMRC Unsyiah, Dr Khairul Munadi ST MEng mengatakan saat ini fokus penelitian masih di bagian utara Aceh dan akan dilanjutkan pada Wilayah Aceh Tengah-Tenggara dan Barat di masa mendatang. Dikatakan, TDMRC Unsyiah komit memberi dukungan informasi kegempaan kepada pihak-pihak terkait, termasuk BMKG dan Pemerintah Aceh. Upaya mitigasi bencana gempa di Aceh perlu diprioritaskan mengingat begitu banyak potensi gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi di Aceh.

Khairul Munadi menambahkan, penelitian itu dapat dilaksanakan berkat dukungan peralatan dari Pusat Penelitian Kebumian Jerman (GFZ-Potsdam) serta berkoordinasi dengan BMKG Jakarta dan Mata Ie Aceh Besar. “Data aktivitas gempa akan dikombinasikan dengan data geomorfologi. Hasil analisis ini akan dapat digunakan oleh pihak terkait guna dijadikan salah satu referensi dalam pembangunan fisik di Aceh,” demikian Dr Khairul. (rel/jal)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2017/01/11/unsyiah-petakan-patahan-gempa