Peringati 12 Tahun Tsunami, Unsyiah Gelar Kaji Cepat Gempabumi Pidie Jaya

Untuk memaknai peringatan 12 Tahun Tsunami Aceh, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menggelar Diskusi Publik bertajuk “Patahan yang terlupakan, Akankah Tsunami juga Terlupakan” pada 24 Desember 2016, di Gedung TDMRC, Ulee Lheu, Banda Aceh.

Diskusi Publik, yang digagas Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah ini, mengambil tema yang agak berbeda yaitu menggabungkan isu tsunami 2004 dan gempabumi di Pidie Jaya 2016. Diskusi publik ini menghadirkan beberapa narasumber yang berbicara mengenai tsunami seperti: Marthunis, ST, DEA, MA yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi dan Ketenagakerjaan BAPPEDA Aceh dan Azhari Aiyub dari Komunitas Tikar Pandan, Ibu Risma Sunarty, M.Si (Badan Penanggulangan Bencana Aceh/BPBA), Dr. Muksin Umar dan Dr. Yunita Idris dari TDMRC Unsyiah. Selain itu, hasil-hasil riset mutakhir kaji cepat terkait Gempabumi Pidie Jaya 2016 dari tim kaji cepat geohazards, struktur, dan human security Universitas Syiah Kuala juga dipaparkan dalam diskusi publik ini.

Ketua panitia Diskusi Publik, Dr. Agus Nugroho, M.Com, menyampaikan bahwa diskusi ini bertujuan untuk memupuk ingatan dan kesadaran jangka panjang terhadap bencana tsunami 12 tahun silam dan gempabumi Pidie Jaya 2016 sekaligus sebagai sarana diseminasi hasil kaji cepat yang penting untuk disampaikan kepada masyarakat luas. Seharusnya, pengalaman tsunami yang lalu memberikan pelajaran bagi masyarakat dan pemangku kebijakan untuk memperhatikan aspek bencana dalam pembangunan infrastruktur dan pemukiman di Aceh. Setelah 12 tahun berlalu, berbagai capaian secara makro di Aceh menunjukkan hal yang menggembirakan. Marthunis dari Bappeda Aceh memaparkan bahwa sekalipun belum terlihat lonjakan yang signifikan dalam aspek ekonomi di Aceh setelah 12 tahun, namun dapat dilihat secara makro ekonomi Aceh mengalami kecenderungan menaik sekalipun tidak cukup cepat. Beberapa yang masih menjadi pekerjaan rumah setelah 12 tahun tsunami adalah bagaimana pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana dalam program-program pembangunan di Aceh benar-benar terintegrasi dengan baik. Salah satu upaya saat ini yang digagas oleh Pemerintah Aceh adalah dengan meninjau ulang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) yang salah satunya dengan cermat akan melihat proses integrasi pengurangan risiko bencana ke dalamnya.  Upaya membangun ingatan dalam aspek waktu dan ruang perlu mendapat perhatian. Azhari dari Komunitas Tikar Pandan menyoroti lemahnya intervensi dalam aspek ruang oleh Pemerintah Aceh dalam menjamin upaya pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan. Salah seorang peserta diskusi ini juga mengkritik tidak dimasukkannya Ekosistem Leuser dalam Rencana Tataruang Wilayah Aceh (RTRW-A) yang baru. Hal ini patut disesalkan dan merupakan langkah mundur Aceh dalam melihat pengurangan risiko bencana dari aspek ekologis.

Di sesi lain, dipaparkan juga ternyata gempabumi Pidie Jaya yang terjadi Tanggal 7 Desember 2016 memberikan evaluasi bahwa Aceh belum sepenuhnya siap terhadap bencana di masa datang. Selama diskusi berlangsung, kegagalan struktur bangunan di kawasan terdampak gempabumi ternyata juga berasal dari kontribusi dari cara membangun bangunan di kawasan ini. Pembesian yang tidak tepat, kurangnya kualitas beton, bentuk bangunan yang tidak simetris, dan pemasangan pipa paralon ke dalam tiang beton turut menyumbang pada kerusakan bangunan yang ditemukan di tiga kabupaten terdampak gempabumi tersebut. Kerusakan banguan lain juga ditunjukkan akibat beratnya massa bangunan atas, seperti pada beberapa masjid yang runtuh dan pertokoan.

Dr. Muksin Umar dan Dr. Irwandi dari TDMRC Unsyiah juga memaparkan kompleksitas jalur gempa (sesar) yang ada di Aceh perlu dijawab dengan upaya penelitian yang intensif. Saat ini, Tim Geohazards TDMRC Unsyiah bekerjasama dengan berbagai pihak memasang sejumlah seismometer untuk pemetaan gempabumi yang lebih baik di Aceh. Ada sekitar 28 titik seismometer yang saat ini dipasang hingga 3 bulan ke depan. Harapannya, melalui diskusi publik ini, pelajaran penting dari berbagai peristiwa bencana yang pernah terjadi, baik di Aceh maupun di wilayah lain Indonesia, dapat disebarluaskan serta dirangkum menjadi sebuah rumusan rekomendasi kebijakan (policy brief).  Salah satu Policy brief yang ditekankan adalah peng-arus utamaan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) dengan memperhatikan prinsip pembangunan lebih baik dan lebih aman yang berpusat pada masyarakat (People Centered Build Back Better and Safer). Harapannya, ini dapat memberi arah mitigasi bencana di Indonesia serta dapat menjadi referensi dalam memperkuat capaian keilmuan dan teknologi mitigasi bencana di Indonesia.

Di saat bersamaan, Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Samsul Rizal, bersama tim pakar struktur bangunan dari Jurusan Teknik Sipil Unsyiah berada di Pidie Jaya untuk menyaksikan secara langsung pemasangan stiker status bangunan publik setelah gempa. Stiker tersebut terdiri dari tiga jenis warna, yaitu warna merah untuk bangunan Rusak Berat, warna Kuning untuk Rusak Sedang, dan warna hijau untuk Rusak Ringan. Bangunan dengan rusak berat adalah bangunan yang tidak layak untuk digunakan lagi, sedangkan rusak sedang adalah bangunan yang perlu perbaikan sebelum digunakan kembali. Untuk warna hijau berarti bangunan layak digunakan. Tim Unsyiah akan terus berada di lapangan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi Pidie Jaya.

Satuan Tugas Unsyiah untuk pemulihan Pidie Jaya akan secara intergratif bekerja untuk memastikan arah proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak gempabumi ini dapat sejalan dengan prinsip SFDRR. Beberapa pelajaran penting dari berbagai bencana yang pernah ada di Indonesia dan di dunia akan dijadikan dasar dalam membangun wilayah yang terdampak ke arah yang lebih baik.