Penjelasan Ketua Tim Bimbingan Konseling Unsyiah Terkait Trauma Korban Gempa Pijay

Gempa berkekuatan 6.5 SR menghancurkan berbagai bangunan di Pidie Jaya, 7 Desember lalu. Gempa tersebut menelan banyak korban yang tidak hanya berdampak pada fisik, tapi juga psikis, sehingga menimbulkan trauma, baik orang tua maupun anak-anak.

Itu sebabnya, Prodi Bimbingan Konseling FKIP Unsyiah mengutus mahasiswa untuk melakukan penanganan reaksi trauma sejak dini. Tim dipimpin Hetti Zuliani, S.Pd., M.Pd., CHT., CI., sejak 8 Desember 2016, turun ke Masjid Tringgadeng dan Menasah Kuta Pangwa. Kegiatan ini berlanjut ke beberapa titik lainnya, seperti di Desa Hagu, Desa Kedeu, Meunasah Tuha, Meunasah Balek, Rhing Krueng sampai kawasan terpencil yaitu Desa Puuk dan Desa Cubo.

“Penanganan ini terus berlangsung sampai sekarang yang dilakukan dengan sistem rolling mahasiswa setiap minggunya sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa menanganan reaksi trauma sejak dini agar tidak terjadinya trauma berkelanjutan yaitu PTSD (Post Traumatic Stress Disorder),” kata Hetti Zuliani dalam keterangan diterima portalsatu.com, Rabu, 21 Desember 2016.

Hetti menyebut penanganan reaksi awal ini sangat berpengaruh pada perubahan yang dimunculkan oleh korban, baik orang tua maupun anak-anak. Perubahan tingkah laku yang tampak pada korban sangat signifikan. “Dapat dilihat dari perubahan tingkah laku sebelum dilakukan terapi, kesulitan untuk berkomunikasi dengan warga, takut gelap, takut sendirian, takut masuk rumah, nafsu makan berkurang, was-was, cemas-cemas, marah-marah tidak jelas, pucat, psikosomastis, tatapan mata kosong, dll.,” ujarnya.

Namun, Hetti melanjutkan, setelah pemberian terapi oleh Tim Konseling Trauma dalam beberapa kali sesi pertemuan konseling pada titik dan orang yang sama terlihat ada perubahan. “Seperti tidur yang lebih berkualitas, emosi yang lebih stabil, menurunnya rasa takut terhadap bangunan dan gempa susulan, nafsu makan lebih meningkat serta sudah berani masuk ke rumah. Selain itu anak juga tampak lebih ceria,” kata dosen tetap Bimbingan dan Konseling FKIP Unsyiah.

Dengan kondisi saat ini, kata Hetti, pihaknya berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat mendukung dan menindaklanjuti kegiatan tersebut agar berkelanjutan. “Mengingat banyaknya korban yang belum mendapatkan bantuan psikologis khususnya daerah-daerah pedalaman,” ujar Hetti Zuliani yang juga Pembina Pramuka Unsyiah.